feedburner
Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

feedburner count

BUKAN PUTRI

Sudah setengah jam ini Putri berada di halte Jalan Pemuda. ada dua alasan dia tetap di sana dan membiarkan dua bus rapid transit yang lewat. Pertama, ia belum ingin naik. masih enggan ia meninggalkan tempat duduknya. Kedua, dari situ, tempat duduknya, dia dapat menikmati penyejuk mata lahir dan mata batinnya.
Di seberang, duduk di atas motornya, seorang pemuda berwajah teduh, bermata sayu namun tenang, dan terlihat tegas tapi lembut di setiap gerakannya. ingin sekali Putri menyeberang, menanyakan nama dan alamat, atau hanya sekedar menyapanya. ingin sekali ia. tapi Putri tertunduk. Tertunduk untuk malu, dan tertunduk untuk melihat keadaannya. Yang juga tetap menjadikannya malu.
Sedangkan dia, sang pemuda, tetap di atas sepeda motornya. tak menyadari dirinya menjadi perhatian Putri, gadis berkacamata yang duduk di halte. di sini, di Jalan Pemuda. pemuda itu tetap bercengkrama dengan temannya. bisingnya suara padatnya arus kendaraan di Jalan Pemuda benar-benar membisukan bibir Putri.
Menangislah Putri, tapi jangan sampai air matamu keluar...
Menangislah, tapi hanya dalam hati...
Dunia ini terlalu angkuh untuk mengerti arti tangisanmu.....

*****

seminggu kemudian....
"Putri, maaf ya, hari ini Dira nggak bisa nganter putri pulang." klik. telepon yang singkat, bahkan Putri belum sempat menjawab.
Putri adalah jiwa yang kuat dalam fisik yang lemah...
Putri adalah wibawa yang agung dalam kehinaan dunia....
"Putri, jangan biarkan dia terus membayangimu. Masih panjang perjalanan yang harus kau tempuh. dan Kami siap membantumu. Kami mendukungmu."
"Iya, Putri. janganlah kau biarkan dirimu tenggelam dalam kelamnya masa lalu. Yang kelam biarkanlah kelam. Jauhi itu. Masih ada banyak cahaya yang dapat kau peroleh."
Demikian bisikan bunga dan ilalang di belakang kamar Putri. Orang awam, tentu hanya akan melihat Putri yang mematung di depan jendela, sembari memandang padang padi yang luas. satu-satunya padang padi di Semarang. Tapi tidak, Putri tak sendiri. Ia punya banyak teman. dan akan selalu menjadi temannya. Tak kan menghianatinya, seperti mereka yang telah lalu.

Rumah itu, sunyi, tapi asri. Rumah panggung, berdinding dan berlantai kayu. Damai dengan taman bunga di depannya. Menciptakan suasana terapi, yang memang disengaja oleh pasangan suami istri itu, orang tua Putri. Kebahagiaan mereka memiliki Putri, tak terukur oleh dalamnya samudra. Mereka melakukan apa saja untuk membahagiakan Putri. Apa saja. Dan dalam hati, tak lupa mereka berkata....
"Tuhan, tolong kami...."

***

Esok harinya....

Putri keluar kamar sambil tersenyum. manis sekali. Jika saja Bu Fatimah bukan orang yang tabah, tentu beliau akan pingsan. Tentu saja, karena dari keseluruhan 20 tahun umur Putri, telah lebih dari 15 tahun Putri menyimpan rapat-rapat senyum itu. dan pagi ini....
"Abah, Umi, selamat pagi. Gimana kabar Abah Umi pagi ini?" itulah kalimat pertama Putri pagi ini. Asal tahu, biasanya pagi selalu dimulai dengan kalimat Putri, "Abah Umi, Putri berangkat dulu."
"Abah, Umi, udah sarapan belum? Kalau belum, mari Umi, Putri bantuin masak."
"Emm.... Apa Putri nggak kuliah?"
"Abah, Umi, hari ini Putri mau libur sehari buat nemanin Abah sama Umi. Hari ini cuma ada 1 kuliah dan Putri udah izin sama Dosennya, Pak Imran. Jadi hari ini Putri mau nemenin Umi masak, nemenin Abah ke sawah, ngerapiin kebun, beres-beres kamar, dan lain-lain yang dapat Putri lakukan hari ini." Oleh ucapan Putri itu, tak terasa Bu Fatimah menitikkan air mata. Sedangkan suaminya, Pak Ali Mustofa, atau lebih sering orang kampung memanggilnya Ustadz Ali, terlihat berkaca-kaca matanya. sungguh pagi yang mengharukan bagi mereka yang selama ini merindukan keceriaan dalam rumahnya.
Lalu, tanpa dikomando, kedua orang tua yang sedang berbahagia itu memeluk anaknya dengan penuh rasa syukur.
Dan episode demi episode keceriaan pun di mulai.
"Umi, hari ini kita masak apa?"
"Ehm, bagaimana kalau ayam panggang kesukaan kamu?"
"Boleh juga tu Umi. Ayo deh."
"Oke sayang, coba ambilkan bumbu masak yang ada di laci nomor dua."
"oh, ya, yang ini Mi? Putri yang motong ayamnya ya?"
"Eh, jangan lupa kopi buat abah, lho." sang Abah tak mau kalah dalam riuhnya suara di dapur.



my home




it's my pesantren
silakan datang bersilaturahmi ke sini
keikhlasan dalam langkah kaki anda
merupakan sesuatu yang amat berharga


Pondok Pesantren Daarul Quran

Jl. Syuhada Raya 92 Tlogosari Kulon - Pedurungan - Semarang
50196.
contact us in (024) 6705205




hai...
it's me